Tampilkan postingan dengan label Matematika Model. Tampilkan semua postingan
biner
BINER
Portfolio
Matematika Model 5
Revisi
Portfolio 1 (UTS)
Oleh
: Nurafni Retno Kurniasih . 15709251007 . PM-A
Senin,
28 Maret 2016
Hidup atau mati, ada
atau tiada, isi atau kosong, salah atau benar, besar atau kecil, kelebihan atau
kekurangan, hitam atau putih, A atau bukan A, Boolean 1 atau 0 adalah
kontradiksi yang terjadi di alam semesta. Begitulah jika kita memandang dunia
dengan sudut pandang oposisi biner. Manusia pada dasarnya adalah seorang
reduksifis. Kita mempunyai filsafat reduksionisme sehingga kita dapat mereduksi
dunia ke dalam kerangka oposisi biner yang merupakan pengandaian dari
kontradiksi atau dua hal yang selalu saling bertentangan. Dari semua yang ada
dan yang mungkin ada di alam semesta ini berhubungan antara sifat – sifatnya
sehingga berstruktur. Alam semesta berkaitan erat dengan ruang dan waktu. Ruang
dan waktu itu berdimensi dan juga berstruktur. Struktur ada dalam kehidupan
sehari – hari kita, dan kehidupan sehari – hari kita tak lepas dari matematika.
Matematika sudah ada
sejak zaman batu atau zaman Pra Yunani Kuno atau zaman purba (antara 4.000.000-20.000
tahun SM). Manusia sudah mulai menghitung dengan menggunakan benda-benda
seperti batu kerikil, ranting, jari – jari tangan, atau tulang hewan. Kemampuan
berhitung ditempuh dengan cara korespondensi satu – satu atau proses pemetaan. Pada
abad 16 - 5 SM manusia telah menemukan alat-alat yang terbuat dari besi,
tembaga dan perak yang digunakan sebagai berbagai macam peralatan. Zaman ini
disebut-sebut sebagai masa persiapan lahirnya filsafat (abad 6 SM). Seiring
berjalannya waktu, kemampuan berpikir manusia terus berkembang. Pada zaman
Yunani Kuno (abad 8-6 SM), orang memiliki kebebasan untuk berpendapat dan
mengungkapkan ide – ide mereka. Zaman ini dipandang sebagai zaman keemasan
filsafat dengan filsuf yang terkenal yaitu Socrates (469-399 SM), Plato
(427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM). Pada zaman inilah konsep bilangan
mucul. Orang mulai berpikir bahwa menyatakan bilangan dengan menggunakan batu
kerikil, ranting, atau jari – jari tangan dirasakan tidak cukup praktis.
Apalagi kalau jumlah benda yang dihitung terlalu banyak. Kemudian mereka
menggambarkan bilangan itu dalam suatu lambang. Lambang (simbol) untuk menulis
sebuah bilangan disebut angka.
Berbagai lambang
bilangan mulai digunakan, seperti bentuk baji dari orang Babilonia(3000 – 500
SM), lambang bilangan dari bangsa Maya di Amerika pada 500 tahun SM, angka Yunani
Kuno Sekitar 3500 tahun SM, Hieroglif dari orang-orang Mesir kuno (tahun
3000 SM), angka hindu –Arab kuno Pada abad ke 11, angka 1 sampai dengan 9
dari bangsa Arab serta simbol bilangan bangsa Romawi. Memasuki zaman modern,
lambang bilangan yang dikenal dan dipakai di seluruh dunia adalah angka Arab dengan
angka-angka pokoknya adalah 0,1,2,3,4,5,6,7,8, dan 9.
Dari sebuah sumber
menyebutkan, bilangan biner berasal dari nabi Ibrahim a.s.(2.295 SM). Melihat
sejarah ilmu aljabar yang berkembang pesat di jazirah Arab, penggunaan angka
arab (Angka 1,2,3,4,5,6,7,8,9,0) dengan lambang titik (.) sebagai angka nol
dalam Al - Quran ditemukan terlebih dahulu sebelum bangsa lain menemukannya.
Angka biner 0 dan 1 merupakan lambang dari ibadah tawaf dan sa’i. Tawaf adalah
suatu ritual mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali, sangat
jelas bahwa mengelilingi artinya membuat lintasan lingkaran atau sebagai
lambang angka nol. Ibadah Sa’i merupakan salah satu rukun Haji
dan umrah yang dilakukan dengan berjalan kaki (berlari-lari
kecil) bolak-balik 7 kali dari bukit Shafa ke
bukit Marwah dan
sebaliknya, diantara kedua bukit tersebut merupakan lintasan garis lurus
artinya sebagai lambang angka satu. Bukti tersebut diperkuat dengan ayat
Al-Qur’an surat Al-Baqarah ayat 125 dan 158. Matematika memang sudah ada sejak
jaman dahulu, hanya saja manusia belum mampu menemukan dan mengungkapkannya.
Biner atau bineritas
merupakan contoh mendasar dari dualisme. Dualisme adalah konsep filsafat
yang menyatakan ada dua substansi. Dualisme merupakan sebuah teori purba yang berakar
dalam budaya Yunani-Roma dan Yudeo-Kristen. Konsep dualitas (prinsip dualisme) yang
berlawanan menjadi tema utama dalam filsafat Yunani. Anaksimander (610-546 SM) menjadi
yang pertama mengajukan teori yang mengatakan bahwa konflik diantara empat
unsur yang berlawanan, panas dan dingin, basah dan kering, merupakan daya alami
kosmos nafsu. Teori yang lebih detail disampaikan oleh para teoresi berikutnya
dengan tetap mempertahankan teori tentang konflik biner ini. Phytagoras (570-
495 SM), Parmenides (540 - 470 SM) dan Aristoteles (384 - 322 SM) menginstitusionalisasikan
teori yang lebih khusus mengenai gender, yaitu dua seks (laki-laki dan
perempuan) sebagai sesuatu yang berlawanan. Phytagoras dalam mazhabnya
mengumumkan, menurut Aristoteles bahwa terdapat sepuluh prinsip yang diatur
dalam dua kolom yang berhubungan :
|
Terbatas
|
Tak
Terbatas
|
|
Ganjil
|
Genap
|
|
Satu
|
Plural
|
|
Kanan
|
Kiri
|
|
Laki
- Laki
|
Wanita
|
|
Diam
|
Bergerak
|
|
Lurus
|
Melengkung
|
|
Terang
|
Gelap
|
|
Baik
|
Buruk
|
|
Persegi
|
Bujur
|
Plato (427-347 SM)
memandang biner adalah oposisi hubungan jiwa dan badan, dimana Plato
menempatkan salah satu lebih tinggi daripada yang lainnya. Menurut Plato, jiwa
lebih penting daripada badan. Jika badan mati, jiwa tetap hidup dan bebas.
Dasar pemikiran logika
biner 0 atau 1 adalah dari Aristoteles yang mengajarkan hukum berfikir bahwasanya
sesuatu itu pasti tergolong benar atau salah. Logika biner tidak ada yang
samar-samar, tidak ada abu-abu, yang ada hanya hitam atau putih, on atau off,
hidup atau mati, gelap atau terang, benar atau salah. Jika tidak 1 maka 0, jika
tidak gelap berarti terang dan ini adalah sesuatu yang logis. Hal inilah yang
menjadi dasar perkembangan teknologi digital saat ini.
Pada Abad ke 17 (zaman
modern) muncul sistem bilangan biner atau sistem bilangan basis dua.
Sistem bilangan biner modern itu ditemukan oleh seorang filsuf Jerman keturunan
Sorbia dan berasal dari Sachsen, Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716) pada
tahun 1679. Sistem bilangan biner (Basis 2) adalah sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua
simbol yaitu 0 dan 1.
Sistem bilangan ini merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis
digital. Bilangan biner ini kemudian dipopulerkan oleh John Von Neuman
(1903-1957). Von Neumann adalah pionir komputer digital modern.
Perhitungan dalam
sistem biner mirip dengan menghitung dalam sistem bilangan lain. Dimulai dengan
angka pertama, dan angka selanjutnya. Dalam sistem bilangan desimal,
perhitungan mnggunakan angka 0 hingga 9 sedangkan dalam biner hanya menggunakan
angka 0 dan 1. Ketika menghitung dengan bilangan biner tetap ada juga aturannya
ketika akan menjumlahkan atau mengurangkan, berbeda dengan operasi aritmatika
bilangan biasa. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya ke sistem
bilangan Oktal atau Hexadesimal,
Sistem ini juga dapat kita sebut dengan istilah bit,
atau Binary Digit. Contoh konversi bilangan biner ke bilangan desimal.

Cara merubah
bilangan biner ke desimal, misalkan kita ingin mengkonversi nilai 8 bit
10011101 menjadi nilai desimal, kita dapat menggunakan rumus seperti di bawah
ini bahwa:
|
128
|
64
|
32
|
16
|
8
|
4
|
2
|
1
|
|
1
|
0
|
0
|
1
|
1
|
1
|
0
|
1
|
Kita menempatkan
angka 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128 (pangkat dua) dalam urutan numerik terbalik,
dan kemudian ditulis nilai biner di bawahnya. Untuk mengkonversi, hanya
mengambil nilai dari baris atas di mana ada angka 1 di bawah, dan kemudian
menambahkan nilai-nilai tersebut bersamaan. Misalnya, dalam contoh, kita akan
menjumlahkan angka pada baris atas yang diwakili oleh angka 1 dibawah maka
dijumlahkan seperti ini : 128 + 16 + 8 + 4 + 1 = 157.
Karena kita tahu
biner adalah basis 2 maka angka di atas dapat ditulis sebagai berikut :
1*27 + 0*26 +
0*25 + 1*24 + 1*23 + 1*22 +
0*21 + 1*20 = 157.”
Kalau untuk
mengubah desimal ke biner juga sangat sederhana, caranya dengan membagi nilai
desimal dengan 2 dan kemudian menuliskan sisanya, lalu diulangi prosesnya sampai
tidak bisa membagi dengan 2 lagi, misalnya kita ambil contoh nilai desimal 157:
157 ÷ 2 = 78 dengan
sisa 1
78 ÷ 2 = 39 dengan sisa 0
39 ÷ 2 = 19 dengan sisa 1
19 ÷ 2 = 9 dengan sisa 1
9 ÷ 2 = 4 dengan sisa 1
4 ÷ 2 = 2 dengan sisa 0
2 ÷ 2 = 1 dengan sisa 0
1 ÷ 2 = 0 dengan sisa 1
Sisa hasil
perhitungan tersebutlah merupakan penulisan bilangan binary yaitu 10111001.
Sistem bilangan
biner merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis digital. Kata Digital
berasal dari kata Digitus, yang dalam Bahasa Yunani berarti jari jemari. Apabila
kita hitung jari jemari orang dewasa, maka berjumlah sepuluh (10). Nilai
sepuluh tersebut terdiri dari 2 radix, yaitu 1 dan 0, oleh karena itu Digital
merupakan penggambaran dari suatu keadaan bilangan yang terdiri dari angka 0
dan 1 atau off dan on (bilangan biner). Sebagai gambaran, proses biner seperti pada
saklar lampu, yang mempunyai 2 kondisi yaitu Off (0) dan On (1). Konsep digital
ini ternyata juga menjadi gambaran pemahaman suatu keadaan yang kontradiksi.
Pada gambaran saklar lampu yang ditekan pada tombol on, maka ruangan akan
tampak terang. Namun apabila saklar lampu yang ditekan pada tombol off, maka
ruangan menjadi gelap. Terang dan gelap adalah kontradiksi. Hidup ini
adalah kontradiksi, alam semesta juga merupakan kontradiksi, yang mana kondisi
alam semesta secara keseluruhan menganut sistem digital ini, yang berarti
bilangan biner mampu mewakili struktur kontradiksi dalam alam semesta.
Sumber:
http://tonywicaksono.blogspot.co.id/2008/11/filsafat-gender.html
http://makalahpendidikanislamismail.blogspot.co.id/2015/08/sejarah-filsafat-pra-yunani-kuno-dan.html
Struktur Bilangan Biner (Sejarah dan Filosofi)
STRUKTUR BILANGAN BINER
(Portfolio Matematika Model 2)
Oleh : Nurafni Retno Kurniasih . 15709251007 . PM-A
Senin, 29 Februari 2016
Hidup dan mati, Ada dan tiada,
Isi dan kosong, Salah dan benar, Besar dan kecil, Kelebihan dan kekurangan
adalah kontradiksi yang terjadi di alam semesta ini. Alam semesta berkaitan
erat dengan ruang dan waktu. Ruang dan waktu itu berdimensi dan juga berstruktur.
Struktur ada dalam kehidupan sehari – hari kita, dan kehidupan sehari – hari
kita tak lepas dari matematika.
Matematika sudah ada sejak zaman
batu atau zaman Pra Yunani Kuno. Manusia sudah mulai menghitung dengan
menggunakan benda-benda seperti batu kerikil, ranting, jari – jari tangan, atau
tulang hewan. Kemampuan berhitung ditempuh dengan cara korespondensi satu –
satu atau proses pemetaan. Seiring berjalannya waktu, kemampuan berpikir
manusia terus berkembang. Pada zaman Yunani Kuno, orang memiliki kebebasan
untuk berpendapat dan mengungkapkan ide – ide mereka. Zaman ini dipandang
sebagai zaman keemasan filsafat dengan filsuf yang terkenal yaitu Socrates (469
-399 SM), Plato (427-347 SM), dan Aristoteles (384-322 SM). Pada zaman inilah
konsep bilangan mucul. Orang mulai berpikir bahwa menyatakan bilangan dengan
menggunakan batu kerikil, ranting, atau jari – jari tangan dirasakan tidak
cukup praktis. Apalagi kalau jumlah benda yang dihitung terlalu banyak.
Kemudian mereka menggambarkan bilangan itu dalam suatu lambang. Lambang
(simbol) untuk menulis sebuah bilangan disebut angka.
Berbagai lambang bilangan mulai
digunakan, seperti bentuk baji dari orang Babilonia, lambang bilangan dari
bangsa Maya di Amerika pada 500 tahun SM, angka Yunani Kuno Sekitar 3500 tahun
S.M, Hieroglif dari orang-orang Mesir kuno (Egypt), angka hindu –Arab
kuno Pada abad ke 11, angka 1 sampai dengan 9 dari bangsa Arab serta simbol
bilangan bangsa Romawi. Memasuki zaman modern, lambang bilangan yang dikenal
dan dipakai di seluruh dunia adalah angka Arab dengan angka-angka pokoknya
adalah 0,1,2,3,4,5,6,7,8, dan 9.
Pada Abad ke 17 muncul sistem
bilangan biner atau sistem bilangan basis dua. Sistem bilangan biner
modern itu ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada tahun 1679. Dia adalah
seorang filsuf Jerman keturunan Sorbia dan berasal dari Sachsen. Sistem
bilangan biner adalah sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua
simbol yaitu 0 dan 1.
Sistem bilangan ini merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis
digital. Selain seorang filsuf, ia adalah ilmuwan, matematikawan, diplomat,
ahli fisika, sejarawan dan doktor dalam hukum duniawi dan hukum gereja. Ia
dianggap sebagai Jiwa Universalis zamannya dan merupakan salah seorang filsuf
yang paling berpengaruh pada abad ke-17 dan ke-18.
Leibniz lahir di Kekaisaran
Romawi Suci, di kota Leipzig, Sachsen pada 1 Juli tahun 1646. Orang tuanya,
terutama ayahnya Friedrich Leibniz sudah sejak awal membangkitkan rasa
ketertarikannya terhadap masalah-masalah yuridis dan falsafi. Ayahnya merupakan
seorang ahli hukum dan profesor dalam bidang etika dan ibunya bernama Catharina
Schmuck, putri seorang ahli hukum pula. Ayah Leibniz meninggal saat Leibniz
masih berusia 6 tahun dan dia dibesarkan oleh ibunya. Gottfried Leibniz telah
belajar bahasa Yunani dan bahasa Latin pada usia 8 tahun berkat kumpulan
buku-buku ayahnya yang luas. Setelah sekolah, Leibniz mulai mempelajari
buku-buku peninggalan ayahnya, teristimewa buku-buku tentang metafisik dan
theologi dari penulis-penulis Katholik maupun Protestan. Pada usia 12 tahun ia
telah mengembangkan beberapa hipotesa logika yang menjadi bahasa simbol
matematika. Leibniz tidak puas dengan sistem (filsafat) Aristoteles dan
berusaha mengembangkan ide-idenya. Pada tahun 1661 saat umur 15 tahun
(tergolong jenius), Leibniz mendaftarkan diri di Universitas Leipzig dengan jalur minat hukum. Pada
tahun 1663 Leibniz pergi ke Jena untuk belajar lebih lanjut di bawah ahli
matematika, fisika dan astronomi Erhard Wiegel untuk membedah pemikiran
Pythagoras. Dia mulai memahami pentingnya pembuktian matematika terhadap logika
dan filsafat. Weigel percaya bahwa bilangan adalah konsep paling dasar dari
alam semesta dan ide-ide ini memberi pengaruh sangat mendalam bagi Leibniz.
Perhitungan dalam sistem biner
mirip dengan menghitung dalam sistem bilangan lain. Dimulai dengan angka
pertama, dan angka selanjutnya. Dalam sistem bilangan desimal, perhitungan
mnggunakan angka 0 hingga 9 sedangkan dalam biner hanya menggunakan angka 0 dan
1. Ketika menghitung dengan bilangan biner tetap ada juga aturannya ketika akan
menjumlahkan atau mengurangkan, berbeda dengan operasi aritmatika bilangan
biasa. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya ke sistem bilangan Oktal atau Hexadesimal,
Sistem ini juga dapat kita sebut dengan istilah bit,
atau Binary Digit. Contoh konversi bilangan biner ke bilangan desimal.
Cara merubah
bilangan biner ke desimal, misalkan kita ingin mengkonversi nilai 8 bit
10011101 menjadi nilai desimal, kita dapat menggunakan rumus seperti di bawah
ini bahwa:
128
|
64
|
32
|
16
|
8
|
4
|
2
|
1
|
1
|
0
|
0
|
1
|
1
|
1
|
0
|
1
|
Kita menempatkan
angka 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128 (pangkat dua) dalam urutan numerik terbalik,
dan kemudian ditulis nilai biner di bawahnya. Untuk mengkonversi, hanya
mengambil nilai dari baris atas di mana ada angka 1 di bawah, dan kemudian
menambahkan nilai-nilai tersebut bersamaan. Misalnya, dalam contoh, kita akan
menjumlahkan angka pada baris atas yang diwakili oleh angka 1 dibawah maka dijumlahkan
seperti ini : 128 + 16 + 8 + 4 + 1 = 157.
Karena kita tahu
biner adalah basis 2 maka angka di atas dapat ditulis sebagai berikut :
1*27 + 0*26 +
0*25 + 1*24 + 1*23 + 1*22 +
0*21 + 1*20 = 157.”
Kalau untuk
mengubah desimal ke biner juga sangat sederhana, caranya dengan membagi nilai
desimal dengan 2 dan kemudian menuliskan sisanya, lalu diulangi prosesnya sampai
tidak bisa membagi dengan 2 lagi, misalnya kita ambil contoh nilai desimal 157:
157 ÷ 2 = 78 dengan sisa 1
78 ÷ 2 = 39 dengan sisa 0
39 ÷ 2 = 19 dengan sisa 1
19 ÷ 2 = 9 dengan sisa 1
9 ÷ 2 = 4 dengan sisa 1
4 ÷ 2 = 2 dengan sisa 0
2 ÷ 2 = 1 dengan sisa 0
1 ÷ 2 = 0 dengan sisa 1
Sisa hasil
perhitungan tersebutlah merupakan penulisan bilangan binary yaitu 10111001.
Sistem bilangan
biner merupakan dasar dari semua sistem bilangan berbasis digital. Kata Digital
berasal dari kata Digitus,yang dalam Bahasa Yunani berarti jari jemari. Apabila
kita hitung jari jemari orang dewasa, maka berjumlah sepuluh (10). Nilai
sepuluh tersebut terdiri dari 2 radix, yaitu 1 dan 0, oleh karena itu Digital
merupakan penggambaran dari suatu keadaan bilangan yang terdiri dari angka 0
dan 1 atau off dan on (bilangan biner). Sebagai gambaran, proses biner seperti pada
saklar lampu, yang mempunyai 2 kondisi yaitu Off (0) dan On (1). Konsep digital
ini ternyata juga menjadi gambaran pemahaman suatu keadaan yang kontradiksi.
Pada gambaran saklar lampu yang ditekan pada tombol on, maka ruangan akan
tampak terang. Namun apabila saklar lampu yang ditekan pada tombol off, maka
ruangan menjadi gelap. Terang dan gelap adalah kontradiksi. Hidup ini adalah kontradiksi, alam semesta juga merupakan kontradiksi, yang mana kondisi alam semesta secara
keseluruhan menganut sistem digital ini, yang berarti bilangan biner mampu
mewakili struktur kontradiksi dalam alam semesta.
Sumber:
SELAMAT SORE BILANGAN BINER
SELAMAT SORE BILANGAN BINER
(portfolio 1)
Sore ini matahari
menutup diri dengan awan abu – abu. Goresan senja terlihat samar di Barat. Aku
sedang duduk di teras rumah saat adikku rewel di ruang makan karena tidak ada
lauk untuk makan malam. Hujan yang sejak tadi pagi terus mengguyur tanpa jeda
membuat kami malas keluar rumah untuk sekedar beli telur di warung terdekat.
“mbak! SMS ibu sih,
minta tolong beli lauk kalau pulang, adek pengen ayam goreng!”.
Adikku yang rewel itu,
selalu lebih galak dari kakaknya. Aku cuma menghela nafas dan mulai mengetik
sms.
‘Assalamualaikum wrwb. Ibu
bpk sdh sampai mn?lauk mkn mlm beli ayam goreng ya bu? Cepat pulang sdh lapar
hiks’.
108 karakter SMS dikirim.
Laporan diterima. Status terkirim.
“udah terkirim SMSnya
tapi belum dibalas”, kataku malas.
Aku membenarkan posisi
duduk karena adikku memaksa duduk bersebelahan. Ibu dan bapakku pergi keluar
kota sejak kemarin, dan mereka hari ini pulang.
“mbak, kok SMS bisa
cepat terkirim ya?”
“ya bisa lah kan sudah
canggih”
Satu menit kemudian
handphone ku berbunyi. Ringtone tanda SMS masuk. Adikku bersemangat mendengarnya.
Matanya jelas terlihat bersinar berharap itu adalah SMS balasan dari ibu. Kubuka
SMS itu dengan sekali tekan tombol handphone. Benar dari ibu.
“ya, ibu sudah hampir sampai,
sudah dibelikan ayam goreng dan gorengan... disini masih hujan, ibu bapak
sedang berteduh di masjid sekalian menunggu maghrib”.
Adikku langsung
berteriak senang “yeeeaaaahhh!!!”. Adikku yang rewel dan galak, sudah kelas 1
SMP. “mbak gimana tadi kok bisa sih SMS itu cepat terkirim dan cepat diterima? Kan
handphone mbak sama punya ibu jauh...”.
Adikku yang selalu ingin
tahu, mau tidak mau membuatku membuka google. Aku mahasiswa pendidikan
matematika, baru semester awal kuliah. Masih minim pengetahuan tentang teknologi
seperti itu, apalagi mata kuliah yang aku pelajari tidak ada yang membahas
teknologi secara khusus tentang jaringan seperti itu. Pencarian selesai. Aku mulai
membaca – baca sekilas beberapa artikel di google. Yang aku bingungkan adalah
bagaimana menjelaskan proses itu untuk adikku yang baru kelas 1 SMP agar
mengerti. Tentang teknologi analog, teknologi digital, sistem bilangan biner yang
rumit, dan istilah – istilah teknologi yang aku juga tidak begitu mengerti.
“ya memang cepat sekali,
tapi SMS itu sebenarnya tidak mudah prosesnya. Setelah kita menulis pesan dalam
bentuk teks, lalu dijadikan suatu kode, jadi tidak langsung dikirim ke
handphone ibu, tapi dikirim dulu ke tower terdekat, lalu dari tower itu dikirim
ke satelit, setelah mengalami proses yang rumit di satelit, dikirim ke SMS
Centernya atau pusatnya, dari situ masih ada proses lagi... saat SMSnya masuk
ke sistem di kantor itu, kita bisa tahu sms itu terkirim atau gagal, lalu
dikirim lagi ke tower lain yang paling dekat lokasinya dengan ibu...dan masuk
lah pesan itu ke handphone ibu”
“terus mbak?”
“adek udah belajar TIK
kan? Pernah dengar analog atau digital?”
“udah mbak hehehe, saat menulis
SMS huruf – hurufnya waktu dikirim dirubah dulu ke sinyal analog dan digital,
tapi masih bingung kok bisa begitu”
“teknologi digital itu memungkinkan
perubahan format dari sinyal menjadi format biner dimana data atau informasi diwakili
oleh serangkaian angka 1 dan 0”
“biner itu apa mbak?”
Aku lalu mengetikkan kata
kunci pencarian di google tentang bilangan biner. Tidak mudah menjawab
pertanyaan adikku tanpa ada sumbernya. Di masa perkembangan pola pikirnya yang
masih sederhana, setidaknya aku mampu menjelaskan dengan benar. Posisiku disini
sekarang adalah aku sebagai sumber belajarnya di luar sekolah. Bisa jadi
pembicaraan santai ini akan dikenangnya ketika di sekolah, atau di tempat lain.
Aku tidak mau adikku salah persepsi awal tentang hal ini. Kubacakan informasi
yang kudapat dari wikipedia
“Sistem bilangan biner atau sistem bilangan basis dua adalah sebuah sistem
penulisan angka dengan
menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1. Sistem bilangan ini merupakan dasar dari semua
sistem bilangan berbasis digital. Dari sistem biner, kita dapat mengkonversinya
ke sistem bilangan Oktal atau Hexadesimal, Sistem ini juga dapat kita sebut dengan istilah bit, atau Binary Digit. Pengelompokan biner dalam komputer selalu berjumlah 8,
dengan istilah 1 Byte/bita. Dalam istilah
komputer, 1 Byte = 8 bit. Kode-kode rancang bangun komputer, seperti ASCII, American Standard Code for Information
Interchange menggunakan sistem peng-kode-an 1 Byte”.
Aku tertawa
melihat adikku yang menatapku dengan tatapan kosong. Entah efek lapar atau
karena bingung dengan penjelasan yang kubaca. Aku mengambil kesimpulan kalau struktur
pikiran dia belum bisa langsung sampai ke penjelasan dengan istilah asing semacam
itu. Ibu dan bapak belum juga sampai rumah. Aku memutuskan untuk mengenalkan
sedikit tentang bilangan biner sembari menunggu kepulangan mereka.
“Mbak ceritakan
tentang bilangan biner ya?”
“iya dong
mbak, jadi penasaran nih”
“Sistem bilangan biner modern itu ditemukan
oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada tahun 1679. Dia adalah seorang filsuf
Jerman keturunan Sorbia dan berasal dari Sachsen.
Selain seorang filsuf,
ia adalah ilmuwan, matematikawan, diplomat, ahli fisika, sejarawan dan doktor
dalam hukum duniawi dan hukum gereja. Ia dianggap sebagai Jiwa Universalis
zamannya dan merupakan salah seorang filsuf yang paling berpengaruh pada abad ke-17
dan ke-18. Leibniz lahir di kota Leipzig, Sachsen pada tahun 1646. Orang
tuanya, terutama ayahnya Friedrich Leibniz sudah sejak awal membangkitkan rasa
ketertarikannya terhadap masalah-masalah yuridis dan falsafi. Ayahnya merupakan
seorang ahli hukum dan profesor dalam bidang etika dan ibunya adalah putri
seorang ahli hukum pula. Gottfried Leibniz telah belajar bahasa Yunani dan
bahasa Latin pada usia 8 tahun berkat kumpulan buku-buku ayahnya yang luas.
Pada usia 12 tahun ia telah mengembangkan beberapa hipotesa logika yang menjadi
bahasa simbol matematika”.
“wow
pinter ya mbak?”
“iya...itu sejarahnya yang menemukan
bilangan biner, kalau perhitungan dalam biner itu mirip dengan menghitung dalam
sistem bilangan lain. Dimulai dengan angka pertama, dan angka selanjutnya.
Dalam sistem bilangan desimal, perhitungan mnggunakan angka 0 hingga 9 kan? sedangkan
dalam biner hanya menggunakan angka 0 dan 1.”
“ooh malah lebih sedikit ya mbak
angkanya? Lebih gampang dong!”
“ya begitulah, ketika menghitung dengan
bilangan biner tetap ada juga aturannya ketika akan menjumlahkan atau
mengurangkan, berbeda dengan operasi aritmatika bilangan biasa”
“contohnya bagaimana mbak?”
Aku
bergegas mengambil sembarang kertas yang terlihat kosong dan pulpen di ruang
tengah lalu kembali ke teras rumah. Malah aku yang bersemangat. Aku menunjukkan
contoh bilangan biner dari internet, lalu menuliskan contoh konversi bilangan
biner ke bilangan desimal.
“ini
contoh bilangan biner...
“lalu
kalau mau merubah bilangan biner ke desimal begini, misalkan kita ingin
mengkonversi nilai 8 bit 10011101 menjadi nilai desimal, kita dapat menggunakan
rumus seperti di bawah ini bahwa:
128
|
64
|
32
|
16
|
8
|
4
|
2
|
1
|
1
|
0
|
0
|
1
|
1
|
1
|
0
|
1
|
Nah lihat dek, kita menempatkan angka 1, 2, 4, 8, 16, 32, 64, 128
(pangkat dua) dalam urutan numerik terbalik, dan kemudian ditulis nilai biner
di bawahnya. Untuk mengkonversi, Adek hanya mengambil nilai dari baris atas di
mana ada angka 1 di bawah, dan kemudian menambahkan nilai-nilai tersebut
bersamaan. Misalnya, dalam contoh, kta akan menjumlahkan angka pada baris atas
yang diwakili oleh angka 1 dibawah maka dijumlahkan seperti ini : 128 + 16 + 8
+ 4 + 1 = 157.
Karena kita tahu biner adalah basis 2
maka angka di atas dapat ditulis sebagai berikut :
1*27 + 0*26 + 0*25 + 1*24 + 1*23 + 1*22 + 0*21 + 1*20 = 157.”
1*27 + 0*26 + 0*25 + 1*24 + 1*23 + 1*22 + 0*21 + 1*20 = 157.”
Kalau untuk mengubah desimal ke biner
juga sangat sederhana, Adek hanya membagi nilai desimal dengan 2 dan kemudian
menuliskan sisanya, lalu diulangi prosesnya sampai Adek tidak bisa membagi
dengan 2 lagi, misalnya kita ambil contoh nilai desimal 157:
157 ÷ 2 = 78
dengan sisa 1
78 ÷ 2 =
39 dengan
sisa 0
39 ÷ 2 =
19 dengan
sisa 1
19 ÷ 2 =
9 dengan
sisa 1
9 ÷ 2 =
4 dengan
sisa 1
4 ÷ 2 =
2 dengan
sisa 0
2 ÷ 2 =
1 dengan
sisa 0
1 ÷ 2 = 0
dengan sisa 1
Sisa hasil perhitungan tersebutlah
merupakan penulisan bilangan binary yaitu 10111001, begitu dek”
Adikku
terlihat antusias, dia mengangguk – angguk sambil membaca ulang tulisanku. Aku
tidak tahu adikku benar – benar mengerti atau tidak, tentang apa itu istilah
bit, byte, oktal, atau heksadesimal. Melihatnya tertarik dan merasa ingin tahu dengan
hal yang berkaitan dengan matematika sudah membuat aku cukup senang. Ibu dan
bapak baru saja sampai di rumah ketika aku dan adikku sedang asyik mencoba mengkonversi
beberapa kode biner.
Sumber :
http://kopicopi.blogspot.co.id/2014/01/penemu-sistem-bilangan-biner-modern.html
Langganan:
Postingan (Atom)
Mau cari apa ?
TOP10 tulisan populer
-
Variabel Penelitian dan Indikator Variabel
-
Jenis dan Pendekatan Penelitian
-
METODE CAMPURAN (MIXED METHODS)
-
TEKNIK ANALISIS DATA KUANTITATIF
-
Struktur Bilangan Biner (Sejarah dan Filosofi)
-
Teknik Sampling
-
Gathering at Wardah Beauty House Yogyakarta
-
Membangun Pemahaman dan Teori Tentang Filsafat Ilmu
-
Masalah-Masalah Dalam Dunia Pendidikan
-
KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR (Tugas)
viewers
Arsip
Kategori
- FilsafatIlmuPendidikan
- litle story
- little story
- Matematika Model
- MetodologiPenelitianPendidikan
- skripsi









