Membangun Pemahaman dan Teori Tentang Filsafat Ilmu


Membangun Pemahaman dan Teori Tentang Filsafat Ilmu

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Filsafat Ilmu Pendidikan Matematika
Dosen Pengampu: Prof. Dr. Marsigit, M. A.



 Disusun Oleh :
Nurafni Retno Kurniasih (15709251007)



PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
YOGYAKARTA
2016


BAB 1
PENDAHULUAN

Filsafat ilmu adalah pola pikir, dengan cakupan pola pikir yang luas meliputi sumber, pembenaran, logika, tata cara, etik dan estetika, cakupan, objek, metodologi, menurut siapa, kapan dan dimananya. Berfilsafat yaitu mencoba memikirkan hal sedalam mungkin, berpikir intensif dan ekstensif, bahkan yang tidak pernah dipikirkan oleh orang pada umumnya sekalipun. Dalam membangun pemahaman dan teori tentang filsafat ilmu, khususnya dalam bidang matematika ada beberapa hal yang perlu dikaji, yaitu tentang persoalan - persoalan pokok dalam pengembangan ilmu matematika dan pendidikan matematika, karakteristik ilmu, obyek ilmu, metode pengembangan ilmu, alat pengembangan ilmu, sejarah perkembangan ilmu, pre-asumsi dan asumsi dasar pengembangan ilmu, sumber - sumber dan batas - batas pengembangan ilmu, pembenaran ilmu, prinsip - prinsip pengembangan ilmu, berbagai aliran pengembangan ilmu, ontologi ilmu, epistemologi ilmu, dan aksiologi ilmu, filsafat matematika, dan filsafat pendidikan matematika.
Dalam mempelajari filsafat (dalam hal ini yang dibicarakan terfokus pada filsafat matematika), merasa tidak jelas itu penting dan diperlukan. Bisa terjadi, ketika kita tidak bisa itu malah menjadi sesuatu yang benar. Dalam filsafat bisa juga salah itu benar. Itulah beda dan anehnya belajar matematika dengan belajar filsafat. Belajar matematika berawal dari yang berantakan atau abstrak kemudian menjadi jelas dan solid di akhir, sedangkan belajar filsafat diawali dari yang solid dan jelas menjadi berantakan di akhir. Untuk membangun pemahaman tentang filsafat, kita harus menyiapkan diri untuk kacau dalam pikiran karena kacau di dalam pikiran adalah awal dari pengetahuan.
Dalam berfilsafat ada tiga aspek yang di pelajari yaitu ontologi (hakikat), epistimologi (metodologi) dan estestika (kepantasan / benar dan salah / baik dan buruk). Dalam hal ini, filsafat ilmu lebih menjurus kepada epistimologi (metodologi), namun semua aspek saling berkaitan satu dengan yang lain sehingga jika kita mempelajari salah satu aspek dalam ilmu filsafat maka dengan sendirinya kita mempelajari aspek yang lain.
Adapun maksud dan tujuan penulisan dari makalah ini adalah untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Filsafat Ilmu Pendidikan, sekaligus untuk memperluas wawasan penyusun serta pembaca pada khususnya mengenai “Membangun Pemahaman dan Teori Tentang Filsafat Ilmu serta untuk memahami lebih jauh bahwa filsafat mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan.

BAB II
ISI

Matematika merupakan kata yang sudah tidak asing lagi di telinga kita. Matematika untuk orang awam identik dengan ilmu hitung. Matematika sendiri memiliki banyak makna tergantung perspektif masing – masing orang dalam memahaminya. Pemahaman makna matematika berbeda – beda dan terus berkembang sejak jaman pemikiran bangsa Babilonia Kuno (Peradaban Mesir), lalu muncul tokoh seperti Socrates, Plato, Immanuel Kant sampai filsafat kontemporer. Pada peradaban Yunani, manusia mulai memikirkan kenyataan bahwa matematika adalah suatu ilmu yang diperoleh dari hasil abstraksi dan idealisasi sehingga muncul berbagai rumus-rumus matematika yang juga tersaji dalam bukti-bukti matematika. Saat itulah dikenal dua sifat yaitu tetap (aliran Permenides) dan berubah (aliran Heraclitos). Matematika sendiri cenderung kepada sifat tetap di dalam pikiran.
Secara filsafat, matematika hanya ada dua macam,yaitu aritmatika dan geometri. Selanjutnya hanya kombinasi interaksi / gabungan / variasinya. Aritmatika secara filsafat berarti waktu, dan geometri secara filsafat berarti ruang. Matematika murni termasuk dalam aliran platonisme, karena matematika murni dianggap tidak perlu ada di dunia. Matematika murni lebih mempelajari tentang logika, logika adalah tautologi atau identitas, yaitu teorema yang satu dengan teorema yang lain harus selalu identik. Menurut pemikiran Imanuel Kant, matematika murni bukanlah sebenar-benar ilmu karena hanya logika saja, karena sebenar-benar ilmu harus lah pengalaman yang dipikirkan dan pikiran yang diterapkan (sintetis a priori).
Secara pragmatis, matematika dapat dipandang sebagai ilmu dunia nyata dimana banyak konsep matematika muncul dari usaha manusia memecahkan persoalan dunia nyata, hasil dari pengamatan manusia terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari misalnya pengukuran pada geometri, gerak benda pada kalkulus, perkiraan pada teori kemungkinan, dll. Berangkat dari permasalahan dalam kehidupan sehari – hari atau dalam istilah lain disebut masalah kontekstual, matematika kemudian berkembang dan digunakan untuk ilmu lain. Misalnya pada ilmu fisika, biologi, kimia, geografi dan ekonomi. Faktanya, matematika merupakan ilmu yang selalu kita pakai dalam kegiatan sehari-hari seperti dalam kegiatan pertanian, perdagangan, ekonomi, teknologi, dan lain sebagainya. Matematika menjadi pondasi pokok untuk pengembangan ilmu – ilmu tersebut. Matematika menjadi rajanya ilmu. Dengan belajar matematika kita dilatih untuk senantiasa berpikir kreatif, kritis dan logis dalam memecahkan berbagai permasalahan. Selain itu, matematika juga dapat melatih kejujuran, ketekunan dan keuletan kita jika benar – benar memahami makna matematika.
Pentingnya matematika dalam kehidupan terlihat dari mata pelajaran matematika yang dimasukkan dalam kurikulum sekolah, dari SD sampai perguruan tinggi. Jam pelajaran matematika juga mendapat porsi lebih banyak daripada mata pelajaran lain. Berbicara tentang matematika dan sekolah, pastinya berkaitan pula dengan guru dan murid yang merupakan komponen utama dalam pembelajaran. Guru yang baik dapat memahami nilai – nilai matematika, hakekat matematika atau filsafat matematika yang kemudian mengimplementasikannya dalam pembelajaran di kelas dengan cara mengorganisasikan kelas, memanfaatkan sumber ajar, pencapaian tujuan pengajaran sesuai dengan kemampuan siswa, pengembangan sistem evaluasi, penanganan perbedaan individual, dan mewujudkan suatu gaya mengajar tertentu sesuai dengan kebutuhan. Guru juga harus memahami hakekat dirinya sebagai pendidik.
Berbicara tentang faktor apa sajakah yang menjadi masalah pendidikan selama ini, tentu saja seharusnya kita lihat ujung pangkalnya, kita lihat sumbernya dari mana masalah itu berasal. Matematika ditemukan karena ada masalah-masalah praktis yang benar-benar ingin diselesaikan oleh manusia, baik karena ingin tahu atau karena alasan-alasan praktis. Matematika sebagai ilmu yang lahir dari pemikiran manusia adalah sangat tergantung dari pondasi pikir seseorang. Pondasi berpikir seseorang dapat dibangun dengan berfilsafat. Lemahnya pendidikan matematika di Indonesia merupakan dampak dari tidak diajarkannya filsafat matematika.
Mengajar matematika dengan menggunakan metode konvensional dan dengan filsafat sangat berbeda. Matematika yang diajarkan dengan metode konvensional hanya mampu sampai pada tahap menghafalkan rumus saja, tanpa mengetahui konsep dan latar belakang suatu teori matematika secara jelas. Siswa tidak memahami rahasia dibalik konsep matematika yang membuat siswa lebih mudah menguasai matematika. Hal ini pula yang membuat matematika menjadi sulit dan susah dipahami konsepnya bagi siswa. Dengan mengimplementasikan filsafat matematika pada pembelajaran memang akan memakan banyak waktu namun akan menghasilkan output siswa yang dapat belajar tuntas serta dapat mencintai matematika.
Hal yang masih menjadi masalah selanjutnya adalah karena adanya anomali paradigma pendidikan di Indonesia yang sampai saat ini belum ada solusinya. Anomali paradigma pendidikan tersebut berdampak pula pada pengembangan kualitas pendidikan, profesional guru dan prestasi belajar. Dari dampak tersebut selanjutnya berdampak pula pada hal – hal lain seperti kegamangan penerapan kurikulum, kontroversi (fungsi) ujian nasional, berbagai persoalan tentang guru baik internal dari diri pribadi guru sendiri maupun eksternal dari faktor dinas pendidikan/ lembaga pendidikan.
Beberapa aliran filsafat pendidikan yang berpengaruh dalam pengembangan pendidikan, misalnya, idealisme, realisme, pragmatisme, humanisme, behaviorisme, dan konstruktivisme. Aliran filsafat tersebut dianut oleh tokoh – tokoh filsafat atau filsuf. Filsafat Pendidikan Idealisme yang memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah tokohnya adalah Plato, Elea dan Hegel, Immanuel Kant, Al Ghazali dan David Hume. Yang tetap itu tokohnya Permenides. Maka dikenal filsafatnya Permenidesianism. Yang berubah tokohnya Heraclitos. Dikenal filsafatnya Heraclitosianism. Selanjutnya berbicara tentang yang bersifat tetap habitatnya dimana, dan yang berubah habitatnya dimana. Yang tetap itu habitatnya di dalam pikiran, yang berubah habitatnya di luar pikiran. Yang di dalam pikiran bersifat absolut atau ideal, maka kita mempunyai filsafat absolutisme atau idealisme. Yang di luar pikiran bersifat real atau nyata, maka ada filsafat yang namanya realisme. Filsafat Pendidikan Realisme tokohnya adalah Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill. Filsafat Pendidikan Materialisme yang berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural, tokohnya adalah Demokritos, Ludwig Feurbach. Filsafat Pendidikan Pragmatisme yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami, tokohnya adalah Charles sandre Peirce, wiliam James, John Dewey, Heracleitos. Filsafat formalism tokohnya adalah D. Hilbert. Filsafat logisism tokohnya SB. Russel.
Obyek filsafat adalah yang “ada” dan yang “mungkin ada” (pengertian dunia filsafat dalam pembelajaran filsafat ilmu). Maksud dari yang “mungkin ada” sangat luas, tidak bisa disebutkan satu persatu karena jumlahnya bermilyar-milyar sampai tak terhingga. “Mungkin ada” disini ditekankan pada tujuannya terlebih dahulu, mungkin ada bagi siapa. Karena “ada” bagi saya belum tentu “ada” bagi dirimu. “Ada” bagi dirimu belum tentu “ada”bagi saya. “ada” ku bisa jadi “mungkin ada” bagimu dan “ada” mu bisa jadi “mungkin ada” bagimu. Bisa juga “ada” untuk diriku dan “ada” untuk dirimu. Kemudian kalau kita pikirkan dari objek filsafat itu, tidak lain dan tidak bukan adalah sifatnya dan hubungan antara sifat – sifatnya. Kemudian dari sifat, hubungan, kemudian strukturnya. Sifat objek filsafat adalah “semua yang engkau pikirkan”, apapun itu (yang dipikirkan) adalah sebuah wadah. Wadah yang disebut yang “ada” dan yang “mungkin ada” adalah merupakan isi. Sebenar-benar wadah merupakan subjek, dan isi merupakan predikat. Tidak akan pernah ada di dunia ini dalam pikiran kita predikat sama dengan subjeknya. Berdasarkan hukum Immanuel Kant bahwa isi itu tidak sama dengan wadahnya, walaupun wadah sekaligus sebagai isi dan isi sekaligus sebagai wadah. Wadah jika dinaikkan tingkatannya secara spiritual terangkum menjadi satu yaitu kuasa Tuhan. Terfokus pada obyek matematika, obyek matematika juga berupa yang ada dan yang mungkin ada. Obyek kajian matematika bersifat abstrak dan juga konkrit. Bisa juga objek kajian matematika adalah objek mental atau pikiran. Obyek kajian matematika berupa fakta, konsep, definisi, operasi hitung, dan prinsip.
Sumber pengetahuan secara filsafat adalah pikiran para Filsuf. Dan yang dimaksud ilmu adalah juga sesuai apa yang dipikirkan para Filsuf. Dan yang dimaksud justifikasi serta macam-macam ilmu adalah juga pikiran para Filsuf. Maka tiadalah sebenar-benar dapat dikatakan belajar Filsafat, jika tidak berdasar pikiran para Filsuf. Belajar filsafat adalah belajar pikiran para filsuf. Dengan kita mempelajari pikiran para filsuf, kita akan memahami tentang filsafat itu. Selain itu berfilsafat adalah berpikir dalam koridor spiritual, etik dan estetika. Setinggi-tinggi orang berfilsafat adalah sopan santun terhadap ruang dan waktu. Masa depan fisafat akan terus maju dan berkembang seiring dengan jaman yang berubah serta pemikiran filsuf - filsuf yang semakin maju. Filsafat tidak akan pernah berhenti karena pertanyaan akan segala macam permasalahan yang ada dan yang mungkin ada akan terus ada.
Ruang lingkup filsafat ilmu mencakup  dua pokok bahasan utama yaitu membahas sifat-sifat pengetahuan ilmiah (epistimologi) dan ontologi. Masalah epistemologi bersangkutan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang pengetahuan. Eepistemologi tidak hanya bersifat inderawi dan akali tetapi juga intuitif. Sebelum dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan kefilsafatan, perlu diperhatikan bagaimana dan dengan sarana apakah kita dapat memperoleh pengetahuan. Jika kita mengetahui batas-batas pengetahuan, kita tidak akan mencoba untuk mengetahui hal-hal yang pada akhirnya tidak dapat diketahui. Memang sebenarnya, kita baru dapat menganggap mempunyai suatu pengetahuan setelah kita meneliti pertanyaan-pertanyaan epistemologi. Kita mungkin terpaksa mengingkari kemungkinan untuk memperoleh pengetahuan, atau mungkin sampai kepada kesimpulan bahwa apa yang kita punyai hanyalah kemungkinan-kemungkinan dan bukannya kepastian, atau mungkin dapat menetapkan batas-batas antara bidang-bidang yang memungkinkan adanya kepastian yang mutlak dengan bidang-bidang yang tidak memungkinkannya. Ontologi dapat kita pahami sebagai hakekat dari sesuatu, untuk memahami hakekat dari sebuah unsur maka kita perlu berfikir ekstensif dan intensif. Objek telaah ontologi adalah yang ada. Studi tentang yang ada, pada dataran studi filsafat pada umumnya di lakukan oleh filsafat metaphisika. Ontologi membahas tentang yang ada, yang tidak terikat oleh satu perwujudan tertentu. Ontologi membahas tentang yang ada yang universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan.
Di dalam filsafat dikenal istilah sintesis dan anti-tesis. Sintesis adalah merasionalkan pikiran apabila pikiran kita berbeda dengan orang lain. Kita mampu mendefinisikan ilmu, hidup maupun dunia melalui sintesis. Sintesis dan anti-sintesis adalah dua hal yang saling melengkapi. Dalam setiap dialog, terdapat sebuah tesis, yang kemudian melahirkan anti-tesis, dan selanjutnya muncul sintesis.
Kaitan filsafat, filsafat ilmu dan filsafat matematika sangat erat, mulai dari tokohnya dan pendapat – pendapat para tokohnya. Istilah istilah yang perlu diketahui dari ketiga hal tersebut adalah intuisi. Intuisi berkaitan dengan filsafat, filsafat ilmu dan juga filsafat matematika. suatu pengetahuan dibangun di atas intuisi murni yaitu intuisi ruang dan waktu dimana konsep-konsep pengetahuan itu dapat dikonstruksi secara sintetis. Intuisi murni merupakan landasan dari semua penalaran dan keputusan dari pengetahuan yang didapat. Jika tidak berlandaskan intuisi murni maka penalaran tersebut tidaklah mungkin.
Segala yang ada dan yang mungkin ada di dunia  ini menempati ruang dan waktunya masing-masing secara harmonis. Karena setiap unsur di dunia ini telah diciptakan secara seimbang oleh Sang Maha Pencipta. Konsep membangun hidup kita perlu menempatkan rasa ikhlas, iman dan taqwa kepada Allah. Kita harus  memilki sasaran yang tepat dalam hidup yaitu dengan berpedoman pada Al-Quran dan hadits. Fatal dapat kita artikan sebagai berserah sepenuhnya kepada nasib, sedangkan vital dapat kita artikan sebagai hasil usaha kita. Ketika kita membangun dunia dengan fatal atau vital maka unsur-unsur yang lain akan membangun dunianya masing-masing.
Filsafat adalah tindakan atau aktivitas untuk berpikir secara mendalam tentang pertanyaan-pertanyaan besar yang kadang pertanyaan itu tidak masuk akal dalam hidup manusia. Filsafat mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan itu secara rasional, kritis, dan sistematis. Namun jawaban yang diberikan belum bisa (tidak akan pernah bisa) memberikan jawaban yang pasti dan mutlak, karena filsafat tidak memberikan jawaban mutlak, melainkan menawarkan alternatif cara berpikir. Belajar filsafat adalah sesuatu yang harus dilakukan jika kita punya pertanyaan-pertanyaan terpendam yang terkesan tidak masuk akal jika diutarakan di depan manusia pada umumnya. Setidaknya dengan mempelajari filsafat, kita bisa menemukan metode yang lebih tepat untuk memahami dan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan dasar tersebut.


BAB III
KESIMPULAN

Metode berfilsafat adalah metode hidup, artinya ada interaksi dalam kehidupan. Hidup itu adalah interaksi antara pikiran dengan pengalaman.Belajar matematika dengan filsafat seharusnya dengan metode hidup, ketika mengajar menjadi guru di sekolah dengan metode hidup, siswa bisa belajar tanpa menyadarinya dan juga dengan kesadarannya bisa tetapi tidak mengalami kegoncangan.
Dalam hal apapun, dengan filsafat kita selalu bisa mendefinisikan hidup. Hidup itu adalah dari yang ada dan yang mungkin ada. Di dalam diri ini ada dua unsur yaitu yang tetap dan yang berubah. Salah satu sifat objek filsafat adalah tetap dan berubah, ternyata hidup itu adalah tetap di dalam perubahan,dan berubah di dalam ketetapan. Belajar filsafat berguna untuk mendekonstruksi atau merombak kembali pemikiran yang selama ini menjadi kebiasaan menjadi seorang yang berpikir kritis. Asumsinya adalah agar kita memperoleh intuisi berfilsafat.
Mempelajari ilmu pengetahuan haruslah secara utuh dengan memahami makna dan hakekat pengetahuan tersebut. Untuk itu kita perlu mempelajari filsafat ilmu. Dengan mempelajari filsafat ilmu, kita akan lebih mendalami pengetahuan secara intensif, ekstensif, spesifik dan ekslusif. Dengan mempelajari filsafat ilmu pengetahuan akan membuka wawasan yang luas, sehingga kita dapat menghargai ilmu-ilmu lain. Dengan demikian kita dapat mengembangkan ilmu pengetahuan secara interdisipliner.
Filsafat ilmu adalah pola pikir, dengan cakupan pola pikir yang luas meliputi sumber, pembenaran, logika, tatacara, etik dan estetika, cakupan, objek, metodologi, menurut siapa, kapan dan dimananya. Didalam hidup ini semua ada aturannya, begitupun ketika belajar filsafat. Dalam belajar filsafat kita perlu mengetahui adab-adabnya. Ada aturan khusus bagi para calon pembelajar filsafat, salah satunya yaitu untuk menguatkan hati, dan keyakinan kita terhadap Tuhan kita karena ilmu tertinggi dalam filsafat berkaitan erat dengan aspek spiritual. Kalau keyakinan kita tidak kuat, bisa jadi malah goyah ketika belajar filsafat.


flower, summer, and a litle story


i miss you, summer


Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Penalaran dalam Matematika dan Sains (Tugas Review Jurnal Pengembangan)


REVIEW JURNAL

 Disusun Untuk Memenuhi Tugas Metodologi Penelitian Pendidikan

Dosen Pengampu: Dr. Heri Retnawati

Disusun oleh:
NURAFNI RETNO KURNIASIH   15709251007
MUHAMMAD ALI MASKUR        15709251040
FITRIANI                                          15709251067

Judul              : Pengembangan Model Pembelajaran Berbasis Penalaran dalam  Matematika dan Sains.
Judul Asli       : Developing Model – Based Reasoning in Mathematics and Science.
Penulis            : Richard Lehrer dan Leona Schauble.
Jurnal             : Journal of Applied Developmental Psychology , vol. 21 (1) , hlm. 39 – 48, 2000. ISSN : 0193 – 3973.
Ringkasan

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan bentuk pemodelan dalam matematika berbasis penalaran untuk meningkatkan kemampuan penalaran siswa pada tingkat sekolah dasar. Penelitian ini dilakukan karena memandang bahwa :
1.      Kemampuan siswa dalam memahami masalah dan penalaran sangat penting, karena diperlukan untuk ingatan jangka panjang.
2.      Matematika berkaitan erat dengan alam semesta, maka untuk  membawa alam semesta ke dalam matematika diperlukanlah pemodelan matematika.
3.      Rendahnya kemampuan siswa dalam menangkap ide – ide untuk mengembangkan kemampuan penalarannya.
4.      Kemampuan penalaran siswa sekolah dasar masih rendah, karena keterlambatan penggunaan  model matematika dalam pembelajaran.
5.      Pengembangan model matematika berbasis penalaran pada penelitian ini didasarkan pada hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan kurangnya kemampuan penalaran siswa.
Jenis penelitian ini adalah penelitian pengembangan. Lokasi penelitian adalah di Wisconsin. Populasinya adalah empat sekolah di distrik dekat Madison, Wisconsin. Sampelnya adalah siswa sekolah dasar. Data diperoleh dengan teknik kualitatif dengan menggunakan peneliti sebagai instrumen utama penelitian, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi dan dokumentasi (foto).
Penelitian menghasilkan empat bentuk model dan praktek pemodelan yang menjanjikan untuk dapat mengembangkan model berbasis penalaran adalah
1.      Model Fisik
Siswa dapat membuat model matematika dengan menggunakan alat peraga.
2.      Representasi Model
Siswa menggambarkan/ merepresentasikan pemodelan matematika dalam bentuk tulisan di kertas. Pemodelan ini masih merupakan ekspresi seni.

3.      Sintaksis Model
Siswa dapat menganalogikan matematika dengan kemiripan yang ada di alam semesta/ lingkungan di sekitarnya.
4.      Hipotesis – deduktif model
Siswa dapat membuat hipotesis dari hasil pemodelan matematika kedalam bentuk matematika simbolik.
Materi yang digunakan dalam penelitian ini adalah materi geometri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa siswa akhirnya mencatat bahwa ketidaksesuaian antara garis dan titik – titik yang mewakili masing – masing objek yang berkaitan. Bahan yang digunakan dalam penelitian yaitu kuningan, aluminium, teflon dan kayu. Dari bahan tersebut kemudian dirangkai siswa ke dalam bentuk bangun-bangun geometri seperti prisma empat persegi panjang, silinder dan bola. Pada pengaplikasian bahan tersebut dalam pemodelan masih memiliki kekurangan disebabkan karena bahan tersebut hanya berlaku untuk memodelkan prisma empat persegi panjang namun tidak sesuai untuk pemodelan silinder dan bola.
Kelebihan:
1.      Penelitian ini mengembangkan pemodelan matematika berbasis penalaran yang berguna untuk variasi mengajar
2.      Pemodelan matematika berguna untuk meningkatkan pemahaman siswa dalam jangka panjang.
3.      Siswa terlibat secara langsung dalam proses pemodelan matematika.

Kelemahan :
1.      Tidak ada penjelasan yang spesifik tentang sampel penelitian
2.      Kemampuan penalaran pada keseluruhan siswa tidak dapat diamati secara langsung
3.      Siswa terfokus pada satu model matematika atau menonjol pada satu model sehingga ketika diberikan kasus pemodelan yang lain siswa masih kesulitan untuk memodelkannya.
4.      Masih terdapat miskonsepsi dari pemodelan matematika antara guru dengan siswa.
5.      Pemodelan belum menjadi ilmu dasar dalam pembelajaran matematika.

Kebermanfaatan:
1.    Bagi siswa
Penelitian ini bisa menumbuhkan motivasi pada siswa untuk belajar matematika, membuat siswa tertarik dan senang dengan pembelajaran yang dilakukan, lebih aktif, mempunyai kemampuan penalaran, berkemampuan mengeksplorasi dan kreatif sehingga pembelajaran menjadi bermakna.
2.    Bagi Pendidik
         Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi, sebagai sumber belajar bagi pendidik, dapat menginspirasi pendidik, meningkatkan kreatifitas dan peran pendidik dalam memilih model atau metode pembelajaran yang baik dan cocok untuk siswa untuk meningkatkan kemampuan penalaran siswa. Pendidik dapat menjadi fasilitator pembelajaran dan bisa  mengatasi kendala-kendala yang dihadapi di lapangan.
3.    Bagi Sekolah
     Penelitian dapat digunakan sebagai bahan evaluasi dan informasi yang bermanfaat untuk melakukan pembaharuan dan pengembangan yang berorientasi pada masa depan.
4.    Bagi Peneliti Selanjutnya

     Penelitian ini dapat menjadi bahan  rujukan untuk  penelitian  berikutnya. Kekurangan yang ada pada penelitian ini menjadi satu dasar untuk mengkaji penelitian lanjutan dengan metode dan pendekatan yang lebih kompleks, misalnya dengan teknik sampling yang lebih baik.

Perkenalkan, Inilah Uji Petik Filsafat


Refleksi kuliah 13 Filsafat Ilmu Pendidikan
NURAFNI RETNO KURNIASIH / 15709251007
Selasa, 15 Desember 2015 ruang 305b gedung pasca lama.
Prof.Dr.Marsigit, M.A.


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum wr.wb.
Pada pertemuan perkuliahan ketiga belas, seperti biasa bapak Marsigit mengawali dengan berdoa bersama. Pada pertemuan terakhir ini cukup spesial yaitu karena diadakan uji petik filsafat. Uji petik itu artinya kita memanfaatkan pengetahuan kita masing – masing untuk meningkatkan dimensi kita dengan cara membaca. Yang dibaca bukan hal yang sepele, yang dibaca adalah sesuatu yang dapat dicoba untuk munguji diri kita sendiri apakah mampu atau tidak.
The real philosophy ditunjukkan dengan membaca referensi bacaan yang memang bersumber dari teori filsafat, bukan hanya tes jawab singkat seperti pada pertemuan sebelumnya yang kemudian setelah membaca dapat menghasilkan karya. Referensi yang diujikan pada uji petik diambil dari karya Immanuel Kant yang berjudul “The Critique of Pure Reason” tahun 1781 pada Preface To The First Edition. Berikut preface nya:
HUMAN REASON, in one sphere of its cognition, is called upon to consider questions, which it cannot decline, as they are presented by its own nature, but which it cannot answer, as they transcend every faculty of the mind.
It falls into this difficulty without any fault of its own. It begins with principles, which cannot be dispensed with in the field of experience, and the truth and sufficiency of which are, at the same time, insured by experience. With these principles it rises, in obedience to the laws of its own nature, to ever higher and more remote conditions. But it quickly discovers that, in this way, its labours must remain ever incomplete, because new questions never cease to present themselves; and thus it finds itself compelled to have recourse to principles which transcend the region of experience, while they are regarded by common sense without distrust. It thus falls into confusion and contradictions, from which it conjectures the presence of latent errors, which, however, it is unable to discover, because the principles it employs, transcending the limits of experience, cannot be tested by that criterion. The arena of these endless contests is called Metaphysic.
Time was, when she was the queen of all the sciences; and, if we take the will for the deed, she certainly deserves, so far as regards the high importance of her object-matter, this title of honour. Now, it is the fashion of the time to heap contempt and scorn upon her; and the matron mourns, forlorn and forsaken, like Hecuba:
Modo maxima rerum,
Tot generis, natisque potens …
Nunc trahor exul, inops.
— Ovid, Metamorphoses. Xiii
At first, her government, under the administration of the dogmatists, was an absolute despotism. But, as the legislative continued to show traces of the ancient barbaric rule, her empire gradually broke up, and intestine wars introduced the reign of anarchy; while the sceptics, like nomadic tribes, who hate a permanent habitation and settled mode of living, attacked from time to time those who had organized themselves into civil communities. But their number was, very happily, small; and thus they could not entirely put a stop to the exertions of those who persisted in raising new edifices, although on no settled or uniform plan. In recent times the hope dawned upon us of seeing those disputes settled, and the legitimacy of her claims established by a kind of physiology of the human understanding—that of the celebrated Locke. But it was found that—although it was affirmed that this so-called queen could not refer her descent to any higher source than that of common experience, a circumstance which necessarily brought suspicion on her claims—as this genealogy was incorrect, she persisted in the advancement of her claims to sovereignty. Thus metaphysics necessarily fell back into the antiquated and rotten constitution of dogmatism, and again became obnoxious to the contempt from which efforts had been made to save it. At present, as all methods, according to the general persuasion, have been tried in vain, there reigns nought but weariness and complete indiffer entism—the mother of chaos and night in the scientific world, but at the same time the source of, or at least the prelude to, the re-creation and reinstallation of a science, when it has fallen into confusion, obscurity, and disuse from ill directed effort.
For it is in reality vain to profess indifference in regard to such inquiries, the object of which cannot be indifferent to humanity. Besides, these pretended indifferentists, however much they may try to disguise themselves by the assumption of a popular style and by changes on the language of the schools, unavoidably fall into metaphysical declarations and propositions, which they profess to regard with so much contempt. At the same time, this indifference, which has arisen in the world of science, and which relates to that kind of knowledge which we should wish to see destroyed the last, is a phenomenon that well deserves our attention and reflection. It is plainly not the effect of the levity, but of the matured judgement* of the age, which refuses to be any longer entertained with illusory knowledge, It is, in fact, a call to reason, again to undertake the most laborious of all tasks—that of self-examination, and to establish a tribunal, which may secure it in its well-grounded claims, while it pronounces against all baseless assumptions and pretensions, not in an arbitrary manner, but according to its own eternal and unchangeable laws. This tribunal is nothing less than the critical investigation of pure reason.
I do not mean by this a criticism of books and systems, but a critical inquiry into the faculty of reason, with reference to the cognitions to which it strives to attain without the aid of experience; in other words, the solution of the question regarding the possibility or impossibility of metaphysics, and the determination of the origin, as well as of the extent and limits of this science. All this must be done on the basis of principles.
This path—the only one now remaining—has been entered upon by me; and I flatter myself that I have, in this way, discovered the cause of—and consequently the mode of removing—all the errors which have hitherto set reason at variance with itself, in the sphere of non-empirical thought. I have not returned an evasive answer to the questions of reason, by alleging the inability and limitation of the faculties of the mind; I have, on the contrary, examined them completely in the light of principles, and, after having discovered the cause of the doubts and contradictions into which reason fell, have solved them to its perfect satisfaction. It is true, these questions have not been solved as dogmatism, in its vain fancies and desires, had expected; for it can only be satisfied by the exercise of magical arts, and of these I have no knowledge. But neither do these come within the compass of our mental powers; and it was the duty of philosophy to destroy the illusions which had their origin in misconceptions, whatever darling hopes and valued expectations may be ruined by its explanations. My chief aim in this work has been thoroughness; and I make bold to say that there is not a single metaphysical problem that does not find its solution, or at least the key to its solution, here. Pure reason is a perfect unity; and therefore, if the principle presented by it prove to be insufficient for the solution of even a single one of those questions to which the very nature of reason gives birth, we must reject it, as we could not be perfectly certain of its sufficiency in the case of the others.
While I say this, I think I see upon the countenance of the reader signs of dissatisfaction mingled with contempt, when he hears declarations which sound so boastful and extravagant; and yet they are beyond comparison more moderate than those advanced by the commonest author of the commonest philosophical programme, in which the dogmatist professes to demonstrate the simple nature of the soul, or the necessity of a primal being. Such a dogmatist promises to extend human knowledge beyond the limits of possible experience; while I humbly confess that this is completely beyond my power. Instead of any such attempt, I confine myself to the examination of reason alone and its pure thought; and I do not need to seek far for the sum-total of its cognition, because it has its seat in my own mind. Besides, common logic presents me with a complete and systematic catalogue of all the simple operations of reason; and it is my task to answer the question how far reason can go, without the material presented and the aid furnished by experience.
So much for the completeness and thoroughness necessary in the execution of the present task. The aims set before us are not arbitrarily proposed, but are imposed upon us by the nature of cognition itself.
The above remarks relate to the matter of our critical inquiry. As regards the form, there are two indispensable conditions, which any one who undertakes so difficult a task as that of a critique of pure reason, is bound to fulfil. These conditions are certitude and clearness.
As regards certitude, I have fully convinced myself that, in this sphere of thought, opinion is perfectly inadmissible, and that everything which bears the least semblance of an hypothesis must be excluded, as of no value in such discussions. For it is a necessary condition of every cognition that is to be established upon a priori grounds that it shall be held to be absolutely necessary; much more is this the case with an attempt to determine all pure a priori cognition, and to furnish the standard—and consequently an example—of all apodeictic (philosophical) certitude. Whether I have succeeded in what I professed to do, it is for the reader to determine; it is the author’s business merely to adduce grounds and reasons, without determining what influence these ought to have on the mind of his judges. But, lest anything he may have said may become the innocent cause of doubt in their minds, or tend to weaken the effect which his arguments might otherwise produce—he may be allowed to point out those passages which may occasion mistrust or difficulty, although these do not concern the main purpose of the present work. He does this solely with the view of removing from the mind of the reader any doubts which might affect his judgement of the work as a whole, and in regard to its ultimate aim.
I know no investigations more necessary for a full insight into the nature of the faculty which we call understanding, and at the same time for the determination of the rules and limits of its use, than those undertaken in the second chapter of the “Transcendental Analytic,” under the title of “Deduction of the Pure Conceptions of the Understanding”; and they have also cost me by far the greatest labour—labour which, I hope, will not remain uncompensated. The view there taken, which goes somewhat deeply into the subject, has two sides, The one relates to the objects of the pure understanding, and is intended to demonstrate and to render comprehensible the objective validity of its a priori conceptions; and it forms for this reason an essential part of the Critique. The other considers the pure understanding itself, its possibility and its powers of cognition—that is, from a subjective point of view; and, although this exposition is of great importance, it does not belong essentially to the main purpose of the work, because the grand question is what and how much can reason and understanding, apart from experience, cognize, and not, how is the faculty of thought itself possible? As the latter is an inquiry into the cause of a given effect, and has thus in it some semblance of an hypothesis (although, as I shall show on another occasion, this is really not the fact), it would seem that, in the present instance, I had allowed myself to enounce a mere opinion, and that the reader must therefore be at liberty to hold a different opinion. But I beg to remind him that, if my subjective deduction does not produce in his mind the conviction of its certitude at which I aimed, the objective deduction, with which alone the present work is properly concerned, is in every respect satisfactory.
As regards clearness, the reader has a right to demand, in the first place, discursive or logical clearness, that is, on the basis of conceptions, and, secondly, intuitive or aesthetic clearness, by means of intuitions, that is, by examples or other modes of illustration in concreto. I have done what I could for the first kind of intelligibility. This was essential to my purpose; and it thus became the accidental cause of my inability to do complete justice to the second requirement. I have been almost always at a loss, during the progress of this work, how to settle this question. Examples and illustrations always appeared to me necessary, and, in the first sketch of the Critique, naturally fell into their proper places. But I very soon became aware of the magnitude of my task, and the numerous problems with which I should be engaged; and, as I perceived that this critical investigation would, even if delivered in the driest scholastic manner, be far from being brief, I found it unadvisable to enlarge it still more with examples and explanations, which are necessary only from a popular point of view. I was induced to take this course from the consideration also that the present work is not intended for popular use, that those devoted to science do not require such helps, although they are always acceptable, and that they would have materially interfered with my present purpose. Abbe Terrasson remarks with great justice that, if we estimate the size of a work, not from the number of its pages, but from the time which we require to make ourselves master of it, it may be said of many a book that it would be much shorter, if it were not so short. On the other hand, as regards the comprehensibility of a system of speculative cognition, connected under a single principle, we may say with equal justice: many a book would have been much clearer, if it had not been intended to be so very clear. For explanations and examples, and other helps to intelligibility, aid us in the comprehension of parts, but they distract the attention, dissipate the mental power of the reader, and stand in the way of his forming a clear conception of the whole; as he cannot attain soon enough to a survey of the system, and the colouring and embellishments bestowed upon it prevent his observing its articulation or organization—which is the most important consideration with him, when he comes to judge of its unity and stability.
The reader must naturally have a strong inducement to co-operate with the present author, if he has formed the intention of erecting a complete and solid edifice of metaphysical science, according to the plan now laid before him. Metaphysics, as here represented, is the only science which admits of completion—and with little labour, if it is united, in a short time; so that nothing will be left to future generations except the task of illustrating and applying it didactically. For this science is nothing more than the inventory of all that is given us by pure reason, systematically arranged. Nothing can escape our notice; for what reason produces from itself cannot lie concealed, but must be brought to the light by reason itself, so soon as we have discovered the common principle of the ideas we seek. The perfect unity of this kind of cognitions, which are based upon pure conceptions, and uninfluenced by any empirical element, or any peculiar intuition leading to determinate experience, renders this completeness not only practicable, but also necessary.

Tecum habita, et noris quam sit tibi curta supellex.
— Persius. Satirae iv. 52.

Such a system of pure speculative reason I hope to be able to publish under the title of Metaphysic of Nature.* The content of this work (which will not be half so long) will be very much richer than that of the present Critique, which has to discover the sources of this cognition and expose the conditions of its possibility, and at the same time to clear and level a fit foundation for the scientific edifice. In the present work, I look for the patient hearing and the impartiality of a judge; in the other, for the goodwill and assistance of a co-labourer. For, however complete the list of principles for this system may be in the Critique, the correctness of the system requires that no deduced conceptions should be absent. These cannot be presented a priori, but must be gradually discovered; and, while the synthesis of conceptions has been fully exhausted in the Critique, it is necessary that, in the proposed work, the same should be the case with their analysis. But this will be rather an amusement than a labour.

Dari uji petik yang diambil dari bacaan diatas, jika kita pandang dari pemikiran filsuf (bukan dari nilai hasil uji petik) kita bisa melihat bagaimana Immanuel Kant membuat kalimat – kalimat itu dalam bentuk kalimat filsafat. Bahasa yang digunakan Immanuel Kant dalam membuat bukunya menggunakan bahasa analog. Jika kita pandang lagi, pada tahun 1781 ketika Immanuel Kant selesai membuat buku dengan pemikiran seperti itu, orang Indonesia masih berjuang untuk menjadi manusia. Ini terjadi karena Immanuel Kant membaca buku. Dengan membaca, dimensi kehidupan akan meningkat.
Selengkapnya buku Immanuel Kant tentang The Critique of Pure Reason dapat di downlod di https://uny.academia.edu/MarsigitHrd

Wassalamualaikum wr.wb.